Diberdayakan oleh Blogger.
RSS


TUJUAN
Penanganan Perihal Kelangkaan Beras di Indonesia
TANTANGAN
Bagaimana mengubah cara pola pikir petani di pedesaan yang kurang memperhatikan cara peningkatan mutu agar produktivitas padi meningkat ?
PENDAHULUAN

   
Gambar 1.1 Padi (Oryza sativa)
        Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan yang sangat penting di dunia setelah gandum dan jagung. Padi merupakan tanaman pangan yang sangat penting karena beras masih digunakan sebagai makanan pokok bagi sebagian besar penduduk dunia terutama Asia sampai sekarang. Beras merupakan komoditas strategis di Indonesia karena beras mempunyai pengaruh yang besar terhadap kestabilan ekonomi dan politik(Purnamaningsih, 2006).
       Saat ini, Indonesia masih sering menghadapi masalah pangan seperti adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan pemukiman yang menyebabkan penurunan produktivitas beras. Selain itu, perubahan musim yang tidak menentu juga dapat menyebabkan produksi beras menurun sehingga pemerintah harus mengimpor beras untuk memenuhi keperluan nasional. Kondisi ini diperburuk dengan adanya krisis ekonomi yang berdampak pada daya beli petani terhadap sarana produksi terutama pupuk
dan pestisida (Purnamaningsih, 2006).
Penyediaan bibit yang berkualitas dari segi produktivitas yang tinggi merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam pengembangan pertanian di masa depan. Peningkatan produksi padi sebagai
makanan pokok tetap merupakan tantangan utama di masa depan (Aak, 1995).
Kelangkaan bahan pangan terutama beras di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor tersebut diantaranya yaitu:

1. bibit padi yang kurang berkualitas sehingga tidak tahan terhadap berbagai hama pengganggu, cuaca yang tidak mendukung

2. alat-alat pertanian yang kurang canggih,



3. ketersediaan pupuk yang belum merata di seluruh pelosok Indonesia.


 



Kelangkaan bahan pangan di Indonesia akan menjadi perihal yang serius apabila tidak ditindak lanjuti dengan cepat dan tanggap.




SOLUSI
Pupuk Kompos



  Kompos adalah hasil akhir bahan organik yang di proses dengan bantuan bakteri. Kompos tidak hanya terdapat unsur hara N, P, dan K saja, tetapi mengandung unsur hara Fe, S, Ca, Mg, dan lain-lain. keuntungan dalam menggunakan pupuk kompos adalah mengurangi problem pencemaran lingkungan hidup secara nyata terutama sampah-sampah organik. 

Bahan-bahan pembuatan Kompos adalah
  1. 600 kg kotoran Kambing atau Sapi
  2. 150 kg Sekam
  3. 300 kg daun-daun hijau
  4. 2,5 kg Dolomit
  5. 1,5 liter Bio-starter
  6. 1 lembar terpal ukuran 3x4 m
Masing-masing bahan yang di gunakan dalam pembuatan pupuk alami berperan dalam mempersiapkan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman. 
  • Kotoran Kambing/Sapi memilki peranan yang sangat besar sebagai nutrisi yang lengkap.
  • Sekam berperan dalam menciptakan porositas dan gerasi tanah yang sangat di perlukan dalam proses pertumbuhan tanaman.
  • Daun-daunan hijau berperan dalam mempertahankan kelembaban dengan kemampuan mengikat air yang baik, sekaligus sebagai sumber nutrisi setelah didekomposisikan.
  • Bio-starter beperan sebagai pengurai yang akan mempercepat proses fermentasi bahan organik menjadi nutrisi.
  • Dolomit berperan dalam meningkatkan PH tanah yang akan mengoptimalkan proses fermentasi dan ketersediaan nutrisi dalam kandungan pupuk.
  • Air beperan dalam mempercepat proses pematangan pupuk dengan kelebaban yang cukup.

Proses Pembuatan Kompos :
1. Pada lapisan pertama alas dari daun-daunan hijau tanpa di cincang yang sudah 10-20 cm. alas tersebut di basahi dengan bio-starter sampai seluruh bagian basah. untuk lebih jelas silahkan lihat gambar diatas.
2. Untuk lapisan kedua di lapisi dengan kotoran Kambing atau Sapi setinggi 20 cm. untuk lebih jelas silahkan lihat gambar di atas.
3. Di atas kotoran Kambing atau Sapi ditaburi dengan dolomit secukupnya. pada gambar diatas adalah proses penaburan dolomit.
4. Kemudian di tutup dengan sekam. setelah sekam merata di siram dengan Bio-starter yang telah dilarut kan air dan disiram sampai seluruh bagian basah. gambar di atas adalah proses penyiraman Bio-starter pada lapisan sekam.
5. Selanjutnya dilakukan proses yang sama untuk lapisan kedua.
6. Setelah semua bahan selesai, selanjutnya di tutup dengan terpal ( plastik ) dan dibiarkan selama 2 bulan untuk proses dekomposisi selama 60 hari dan pupuk siap di gunakan.
Catatan : Proses dekomposisi menjadi pupuk alami dapat di percepat hingga 20 hari, dengan perlakuan pengadukan pada hari ke-4, hari ke-15, kemudian pada hari ke-20. pengadukan ini dilakukan  untuk membalikan posisi adonan di tengah ke posisi luar.

Catatan : Perbandingan antara kotoran Kambing atau Sapi : Sekam : Daun-daun Hijau : Dolomit, adalah 2 : 1 : 1 : 0,1. sedangkan Bio-starter yang digunakan sebanyak 5 takaran tutup botol air kemasan untuk air 1 gembor dan setiap lapisan memerlukan 4 gembor sampai 5 gembor. 
http://ditoaprianto.blogspot.co.id/2012/09/mengenal-pupuk-kompos-dan-proses.html

Solusi terpilih :
    Dari beberapa hasil pemikiran dan referensi yang kami dapatkan, solusi yang paling tepat menurut kami adalah memberikan metode penyuluhan kepada petani dengan cara efektif melalui pendekatan perorangan, pendekatan kelompok dan pendekatan massal.
Alasannya adalah dengan memberikan penyuluhan terhadap petani dapat memberikan wawasan dan pengetahuan tentang bagaimana cara meningkatkan produktivitas padi di Indonesia baik dari segi pengelolaan lahan,bibit maupun pupuk yang baik untuk meningkatkan hasil padi. 

Cara mengubah pola pikir petani di daerah pedesaan yang kurang memperhatikan cara pelatihan untuk meningkatkan produktivitas padi. 

     Salah satu cara yang dilaksanakan pemerintah kepada para petani  untuk meningkatkan produktivitas padi yaitu dengan cara memberikan penyuluhan kepada para petani  di setiap daerah pedesaan. Penyuluhan ini bertujuan untuk  memberikan pengetahuan yang lebih luas, perubahan keterampilan teknis yang lebih baik serta perubahan sifat untuk lebih produktif sehingga para petani dapat memperbaiki  cara berusaha tani agar lebih menguntungkan. Akan tetapi penyuluhan yang dilakukan pemerintah ini kurang diterima oleh para petani di daerah pedesaan.Oleh karena itu kita akan memecahkan solusi untuk memecahkan permasalahan ini untuk mengubah pola pikir petani  di daerah pedesaan agar menerima penyuluhan pertanian guna untuk meningkatkan produktivitas padi di Indonesia.

referensi :  
Risyart A. Far Far, Jurnal Budidaya Pertanian, Vol. 10. No 1, Juli 2014, Halaman 48-51. 
RESPON PETANI TERHADAP PENERAPAN METODE PENYULUHAN PERTANIAN  DI KOTA AMBON PROVINSI MALUKU
The Response of Farmers to the Application of Agricultural Extension Methods in Ambon City,  Maluku Province    

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS


Permasalahan di Indonesia :

  Gambar 1.1 Padi (Oryza sativa)

Tujuan : Penanganan Perihal Kelangkaan Beras di Indonesia
Pernyataan Penting : Bagaimana mengubah cara pola pikir petani di pedesaan yang kurang memperhatikan cara pelatihan untuk meningkatkan produktivitas padi?
Apa yang kami perlukan : Referensi berupa Jurnal
Alternatif pemecahan masalah
  •   Pengadaan prestise bagi petani yang mampu menjalankan pelatihan dengan baik
  •   Memilih duta petani muda untuk memotivasi para petani yang lainnya.
  •   Memberikan dana yang cukup untuk kebutuhan urgent.
  •   Memeberikan metode yang efektif dengan pendekatan perorangan, pendekatan kelompok dan pendekatan massal.
Solusi terpilih :

     Dari beberapa hasil pemikiran dan referensi yang kami dapatkan, solusi yang paling tepat menurut kami adalah memberikan metode penyuluhan kepada petani dengan cara efektif melalui pendekatan perorangan, pendekatan kelompok dan pendekatan massal.
Alasannya adalah dengan memberikan penyuluhan terhadap petani dapat memberikan wawasan dan pengetahuan tentang bagaimana cara meningkatkan produktivitas padi di Indonesia baik dari segi pengelolaan lahan,bibit maupun pupuk yang baik untuk meningkatkan hasil padi. 

Cara mengubah pola pikir petani di daerah pedesaan yang kurang memperhatikan cara pelatihan untuk meningkatkan produktivitas padi. 

     Salah satu cara yang dilaksanakan pemerintah kepada para petani  untuk meningkatkan produktivitas padi yaitu dengan cara memberikan penyuluhan kepada para petani  di setiap daerah pedesaan. Penyuluhan ini bertujuan untuk  memberikan pengetahuan yang lebih luas, perubahan keterampilan teknis yang lebih baik serta perubahan sifat untuk lebih produktif sehingga para petani dapat memperbaiki  cara berusaha tani agar lebih menguntungkan. Akan tetapi penyuluhan yang dilakukan pemerintah ini kurang diterima oleh para petani di daerah pedesaan.Oleh karena itu kita akan memecahkan solusi untuk memecahkan permasalahan ini untuk mengubah pola pikir petani  di daerah pedesaan agar menerima penyuluhan pertanian guna untuk meningkatkan produktivitas padi di Indonesia.

referensi :  
Risyart A. Far Far, Jurnal Budidaya Pertanian, Vol. 10. No 1, Juli 2014, Halaman 48-51. 
RESPON PETANI TERHADAP PENERAPAN METODE PENYULUHAN PERTANIAN  DI KOTA AMBON PROVINSI MALUKU
The Response of Farmers to the Application of Agricultural Extension Methods in Ambon City,  Maluku Province 
Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Jl. Ir. M. Putuhena, Kampus Poka, Ambon 97233   

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS