Diberdayakan oleh Blogger.
RSS



       Jagung Sebagai Pengganti Beras

     
 Tanaman Jagung

sumber : www.agrotani.com
Klasifikasi dan Struktur Biji Jagung Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu komoditi pertanian yang termasuk ke dalam tanaman biji-bijian famili rumput-rumputan (Graminae). Diklasifikasikan kedalam divisi Angiospermae, kelas Monocotyledoneae, ordo Poales, famili Poaceae, dan Genus Zea (Wikipedia, 2007). Jagung merupakan salah satu sumber pangan dunia selain gandum dan padi. Jagung dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat, pakan ternak, dapat diambil minyaknya, serta dapat dijadikan sebagai bahan baku berbagai macam industri. Jagung yang telah direkayasa genetika juga dapat digunakan untuk bahan farmasi (Azra, 2012). Secara umum biji jagung terdiri dari endosperma, lembaga, perikarp, dan tipcap (tudung pangkal biji). Bagian utama yaitu endosperma yang merupakan bagian terbesar dari biji jagung dengan hampir seluruh bagiannya terdiri dari karbohidrat baik pada bagian lunak (fluory endosperm) maupun pada bagian yang keras (horny endosperm). Pati pada endosperm tersusun dari senyawa anhidroglukosa yang terdiri dari dua molekul utama yaitu amilosa dan amilopektin (White, 2001).
                        
 Komposisi Kimia Jagung
Komponen kimia terbesar dalam jagung adalah karbohidrat, yaitu sekitar 72% dari berat biji yang sebagian besar berupa pati, yang secara umum mengandung amilosa 25-30 % dan amilopektin sekitar 70-75 % (Boyer dan Shannon, 2003). Biji jagung mengandung lipid yang terdiri dari triasilgliserol (TAGs) yaitu sekitar 95%, fosfolipid, glikolipid,hidrokarbon, fitosterol (sterol dan stanol), asam lemak bebas, karotenoid (vitamin A), tocol (vitamin E), dan waxes. Asam lemak yang terkandung pada minyak jagung antara lain asam linoleat (59,7%), asam oleat (25,2%), asam palmitat (11,6%), asam stearat (1,8%), dan asam linolenat (0,8%). Kandungan asam lemak tersebut sebenarnya memiliki efek fungsional, namun kandungan ini akan menghasilkan produk dari jagung memiliki tekstur yang kurang baik serta mudah sekali mengalami ketengikan (Lawton dan Wilson, 2003). 
         Komposisi kimia pada biji jagung menurut Watson (2003) dapat dilihat pada Tabel 1, selain itu biji jagung juga mengandung beberapa vitamin seperti kolin 57 mg/kg, niasin 28 mg/kg, asam pantotenat 6,6 mg/kg, piridoksin 5,3 mg/kg, tiamin 3,8 mg/kg, riboflavin 1,4 mg/kg, asam folat 0,3 mg/kg, biotin 0,08 mg/kg, vitamin A (karoten) 2,5 mg/kg, dan vitamin E (tokoferol) 30 IU/kg (Watson, 2003).

Karatenoid umumnya terdapat pada biji jagung kuning, sedangkan jagung putih mengandung karatenoid sangat  sedikit bahkan tidak ada. Biji tua jagung mengandung sangat sedikit asam askorbat (Vitamin C), dan piridoksin (Vitamin B6) (Suarni dan Widowati, 2007).  
         Berdasarkan kandungan gizi yang terdapat  pada tanaman jagung cukup tinggi ,maka kelompok kami tertarik untuk membahas dan mendidkusikan secara lebih lanjut tentang tamanan tersebut.
         Berdasarkan hasil angket yang telah kami sebarkan di STPP (Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian), salah satu tamanan pengganti beras yang sangat banyak dikonsumsi masyarakat adalah tanaman jagung,karena tanaman ini sangat mudah untuk dibudidayakan dan banyak dijumpai di berbagai tempat.Tanaman jagung dapat diolah menjadi berbagai produk seperti, tepung,bubur,dodol,puding,nasi,dan lain-lain. Dari berbagai macam produk hasil pengolahan tersebut,kami tertarik untuk mencari informasi lebih lanjut tentang  bagaimana cara pengolahan nasi jagung.
         Kami mewawancarai seorang penjual nasi jagung yang tinggal di sebuah Desa Tegalagung yang berada di daerah Kabupaten Tuban. Beliau mengatakan bahwa sampai saat ini masih banyak masyarakat di sekitar desa tersebut menjadikan nasi jagung  sebagai makanan pokok sehari-hari selain beras, karena harga beras yang masih cukup tinggi dibandingkan dengan harga jagung.
Selain itu faktor lain yang mempengaruhi adalah lahan pertanian yang masih luas dan  banyak masyarakat yang bercocok tanam di ladang maupun di sawah. Pembuatan nasi jagung tersebut selain dikonsumsi sendiri  bisa juga dijual di berbagai rumah makan, untuk menambah penghasilan tambahan .Berikut adalah cara pengolahan nasi jagung berdasarkan pengalaman yang telah dilakukan oleh nenek tersebut.

Nasi Jagung
sumber : caramemasaksederhana.blogspot.com
 Alat dan Bahan:
Panci
Centong
Air
Tepung Jagung
Baskom
 
*   Langkah-langkah:

1. Menyiapkan tepung jagung di dalam baskom.
2. Menambahkan air sedikit demi sedikit sambil diaduk merata sampai menjadi gumpalan-gumpalan kecil.
3. Mengukus selama 10-15 menit dalam panci,lalu angkat dan tuangkan ke baskom.
4. Menambahkan air panas sedikit demi sedikit,dan diaduk merata sampai menjadi gumpalan-gumpalan kecil
5. Mengukus selama 10-15 menit hingga matang




Nara Sumber: Ibu Sri Wati

eprints.undip.ac.id/44462/3/BAB_II.pdf


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS


 INOVASI PRODUK PANGAN BARU
24 November 2016


Generasi muda merupakan generasi emas harapan bangsa. Dimana generasi muda diharapkan dapat melanjutkan dan membangun bangsa ini semakin baik kedepannya. Tentu, sebagai generasi muda haruslah peka terhadap berbagai perihal penting yang dihadapi negeri tercinta, Indonesia. Meninjau perihal ketahanan pangan yang memprihatinkan maka patut kiranya seluruh warga Indonesia berlomba-lomba untuk turut andil dalam mengatasi perihal ketahanan pangan yang memprihatinkan dengan inovasi dan ide cemerlang yang dapat diimplementasikan.
Pola konsumsi beras pada masyarakat Indonesia sangat tinggi. 99% dari beberapa generasi muda mengemukakan bahwa sangat sulit untuk beralih dari nasi karena ada anggapan bahwa jika belum makan nasi, belum makan dan ada anggapan baru lagi dikalangan masyarakat yaitu ‘rice oriented’ yang mengandung makna bahwa makan nasi itu budaya hidup modern.
Jika berandai beras akan langka disuatu hari, makanan pokok yang pilih untuk dijadikan sebagai makanan pokok yaitu jagung,karena jagung merupakan bahan pokok yang dapat dijadikan pengganti beras karena mengandung karbohidrat, mengenyangkan dan mudah hidup di daerah tropis. Banyak juga yang memilih ubi jalar, ketela ,singkong, jagung karena ditinjau dari kandungan gizi yang tidak kalah dengan beras, cara pengolahannya yang mudah dan dapat diinovasikan ke berbagai macam produk olahan makanan ,mudah dibudidayakan, dan rasanya yang enak ,disukai banyak kalangan.
Namun, sekali lagi nasi tetap menjadi idaman dikalangan masyarakat Indonesia. Terdapat berbagai macam solusi yang mungkin dapat mengatasi kelangkaan beras tanpa menggantikan beras sebagai bahan makanan pokok yaitu menjaga kestabilan ketersediaan beras dengan cara memperluas areal persawahan; melalui penyuluhan oleh para generasi muda di bidang pertanian maupun bidang keilmuan yang lainnya, mengubah pola pikir bahwa nasi satu-satunya makanan pokok yang mengeyangkan, subsidi kebutuhan pertanian bagi para petani dan kebijakan harga beras yang lebih baik, diversifikasi pangan, mengurangi impor beras dari luar negeri bagi petani dapat dengan bijak mengatur pola tanam dan waktu tanam tanaman beras dengan baik mengoptimalkan produksi beras dalam negeri dengan didukung alat-alat pertanian yang canggih dan modern, adanya gerakan One Day No Rice, dan paling menarik untuk didiskusikan lebih lanjut yaitu mengkreasikan makanan pokok selain beras dan didapat dari sumber daya alam Indonesia yang sering dijumpai di areal persawahan dan biasanya tumbuh disekitar areal persawahan yang telah ditanami padi yaitu Jewawut.
Gb. Jewawut yang masih Muda    
Dok Pribadi Kona’ah Ajeng W.
Kandungan gizi jewawut dapat memenuhi kebutuhan kalori harian, karena jewawut mengandung kandungan karbohidrat yaitu 79% dan kandungan lainnya dalam jewawut yaitu mengandung protein sebanyak 11% yang lebih tinggi dari pada beras yang hanya 7%.(Jie Suek, 2015). Ditinjau dari kontribusinya dalam menyeimbangkan suasana pH tubuh, jewawut dapat menyumbangkan andil yang baik agar tubuh dalam suasana pH seimbang, karena dalam proses pencernaan di dalam tubuh, jewawut merupakan basa lemah dibandingkan dengan beras putih yang akan menjadi asam dalam tubuh yang kurang baik karena pH tubuh tidak baik dalam kondisi asam.(Darsono Sigit, 2016).

Dengan dimanfaatkannya tanaman jewawut secara optimal diharapkan dapat membantu mengatasi kelangkaan beras dan kita dapat memanfaatkannya sebagai bentuk rasa syukur atas karunia dan penciptaan ALLAH SWT yang menyimpan banyak manfaat untuk manusia dan alam sekitarnya.

REFERENSI :
Juek, Sie.2015.Tumbuhan Jewawut atau Sekoi.(Online),http://www.anekuteun.com/2015/07/tumbuhan-jewawut-atau-sekoi.html

NARASUMBER :
Bapak Darsono Sigit
37 delegasi Mahasiswa dan Mahasiswi Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Malang dari program studi Pertanian, Penyuluhan Pertanian, Peternakan, Penyuluhan Peternakan, Teknologi Industri Pertanian, (partisipan pengisi angket)
2 delegasi mahasiswa Universitas Tribuana Malang dari program studi Agriteknologi dan Agribisnis (partisipan pengisi angket)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS


Berbenah, untuk Produksi Padi Indonesia yang Lebih Baik
Malang, 13 November 2016

 
Sumber Gambar : langitperempuan.com 


Beras merupakan bahan pangan pokok bagi 95 persen dari penduduk Indonesia. Beras juga merupakan komoditas politik yang sangat strategis, sehingga produksi beras dalam negeri menjadi tolak ukur ketersediaan pangan bagi Indonesia (Suryana, 2002). Sejak awal kemerdekaan, Indonesia telah berusaha keras untuk meningkatkan produksi padi. Namun, selama lebih dari tiga dekade Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan beras dalam negeri, sehingga masih tergantung pada impor. Kondisi ini diperburuk oleh adanya konversi lahan subur di Jawa, sehingga pertumbuhan produksi padi melandai.
Hasil studi menunjukkan bahwa lahan sawah merupakan sumber utama produksi padi. Pada tahun 2005, luas sawah irigasi dan tadah hujan yang ditanami padi adalah 6,84 juta ha, dengan rataan indeks pertanaman 1,61. Angka ini masih menunjukkan adanya potensi untuk meningkatkan produksi padi melalui peningkatan indeks pertanaman. Data statistik menunjukkan bahwa 95 persen dari produksi padi nasional berasal dari lahan sawah.
Namun karena faktor pertumbuhan penduduk dan perkembangan sektor industri dan perumahan menyebabkan peningkatan kebutuhan lahan untuk perumahan dan areal pabrik semakin meningkat. Irawan (2003) melaporkan bahwa selama 1978-1998 sekitar 1,07 juta ha lahan (30,8%) telah terkonversi menjadi lahan nonpertanian.
Berbagai upaya terus dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan produksi padi. Melalui program revitalisasi pertanian, diharapkan mampu memperbaiki stabilitas serta meningkatkan produksi padi. Dua dari tiga kebijakan utama pemerintah dalam penerapan program tersebut adalah intensifikasi pertanian dan penerapan teknologi usaha tani (termasuk program pemuliaan tanaman), serta ekstensifikasi pertanian (termasuk pembukaan lahan baru).
Upaya peningkatan produksi padi dapat dilakukan salah satunya melalui upaya intensifikasi untuk menghasilkan produksi yang optimal. Intensifikasi dilakukan dengan memperbaiki teknologi anjuran untuk meningkatkan produktivitas lahan, sehingga akan mendukung dihasilkannya produksi yang tinggi. Saat ini, upaya intensifikasi telah mengalami perkembangan yang sangat berarti. Untuk mempertahankan lahan pertanian lahir pula sebuah kebijakan sejak tahun 2000 yaitu tentang kebijakan pembentukan lahan pertanian abadi yang cukup intens diperdebatkan. Pada intinya gagasan tersebut ditujukan untuk mempertahankan keberadaan lahan pertanian dari ancaman konversi lahan. Kebijakan tersebut dinilai penting, mengingat konversi lahan yang berlebihan dan tidak terkendali dapat menimbulkan dampak luas terhadap pencapaian tujuan pembangunan pertanian dan pembangunan nasional.


Referensi :
Swastika. Dewa K.S,Wargiono J., Soejitno, dan Hasanuddin A.2007. ANALISIS KEBIJAKAN PENINGKATAN PRODUKSI PADI MELALUI EFISIENSI PEMANFAATAN LAHAN SAWAH DI INDONESIA Analisis Kebijakan Pertanian Volume 5 No. 1, Maret 2007 : 36-52,  (Online), http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles/ART5-1a.pdf, diakses tanggal 10 November 2016
Ir.Sabaruddin,Indra Gunawan.MENINGKATKAN PROUKSI PADI DENGAN PENERAPAN TEKNOLOGI HEMAT AIR, (Online), https://indgdotme.files.wordpress.com/2012/03/memaksimalkan-prouksi-padi.pdf, diakses tanggal 10 November 2016
Simatupang,Pantjar,  Irawan,Bambang. PENGENDALIAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN: TINJAUAN ULANG KEBIJAKAN LAHAN PERTANIAN ABADI, (Online),http://balittanah.litbang.pertanian.go.id/eng/dokumentasi/prosiding/mflp2003/pancar%20simatupang05.pdf, diakses tanggal 11 November 2016
Referensi Gambar :                           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS