Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

REFLEKSI UNTUK KITA

Beras, komoditi utama pangan Indonesia yang sudah sepatutnya kita perhatikan terus ketersediaannya. Memang saat ini kebutuhan akan beras masih tercukupi, namun hal tersebut tidaklah dapat dijadikan patokan untuk ketersediaan beras di masa yang akan datang karena terdapat beban resiko yang harus diperhitungkan kedepannya.
Oleh karena itu, selain kita berupaya untuk menjaga ketersediaan pangan dengan melaksanakan diversifikasi pangan non-beras, dan daya guna lahan pertanian yang optimal, diperlukan juga inovasi kedepannya untuk tetap menjaga ketersediaan bahan pangan yang bergizi dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. 
Perihal yang menghambat pertumbuhan swasembada pangan di Indonesia sangatlah kompleks. Dimulai dari terjadinya degradasi lahan pertanian yang akan menyebabkan turunnya produktivitas pangan di Indonesia.
Pengalihan fungsi lahan yang sebelumnya terfokus untuk mengelola sumber daya alam termasuk pertanian kini semakin banyak yang dialih fungsikan untuk membangun infrakstruktur  berupa perumahan, industri dan pabrik. Hal ini tentu berpengaruh besar terhadap berkurangnya luas tanah garapan. Pengalihan fungsi lahan juga akan mengakibatkan erosi tanah yang akan menyebabkan kualitas atau mutu tanah akan berkurang. Akibatnya mulai memunculkan masalah-masalah lain, seperti persediaan sumber air yang mulai berkurang, padahal kecukupan ketersediaan sumber air merupakan faktor vital bagi kebutuhan irigasi untuk pertanian.
Apabila salah satu faktor utama saja sudah kesulitan, maka akan berdampak besar bagi yang aspek keberhasilan panen lainnya. Untuk itu diperlukan inovasi untuk penghematan air untuk sistem irigasi pertanian. Diantaranya dengan menerapkan teknologihematair.

Prinsip teknologi hemat air adalah mengurangi aliran yang tidak produktif seperti rembesan, perkolasi, dan evaporasi, serta memelihara aliran transpirasi. Hal tersebut bisa dilaksanakan mulai saat persiapan lahan, tanam, dan selama pertumbuhan tanaman. Salah satu alternatif teknologi dalam pengelolaan air (water management) adalah alternate wetting and drying (AWD) atau pengairan basah kering (PBK). Teknologi ini telah diadaptasi di negara-negara penghasil padi seperti China, India, Philipina, dan Indonesia. Secara umum, penggunaan teknologi ini tidak menyebabkan penurunan hasil yang signifikan dan dapat meningkatkan produktivitas air.
Langkah Pembuatan  alat AWD
1.     Siapkan pipa sepanjang 35 cm dengan diameter  3-5 cm
2.     Buatlah lubang kecil-kecil setinggi 20 cm pada pipa
3.     Pipa yang sudah diberi lubang ditanam pada petakan sawah dan diatas permukaan tanah setinggi 15 cm
Sumber : http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/images/content/berita/18Agustus15.png


Cara Aplikasi alat AWD
1.     AWD dipasang sebelum/sesaat setelah tanam dan dibenamkan sedalm 20 cm. Tinggi AWD 15 cm diatas permukaan tanah.
2.     Setelah dipasang keluarkan tanah didalam pipa
3.     Pengukuran dimulai pada 7-10 hst pada setiap tapin dan 21 hst pada system tabela
4.     Tingkat level air dimonitor/dipantau setiap dua hari sekali dan dicatat
5.     Bila tinggi air dalam pipa kurang dari 5 cm, lahan sawah segera dialiri air
6.     Padi tidak perlu digenangi air setiap waktu
7.     Pada saat pengisian bulir tanaman padi digenangi air
8.     Pada 7-10 hari sebelum panen sawah dikeringkan.

Prinsip Pengairan Basah Kering
Prinsif dari penerapan PBK adalah memonitor kedalaman air dengan menggunakan alat bantu berupa pipa. Setelah lahan sawah diairi, kedalaman air akan menurun secara gradual. Ketika kedalaman air mencapai 15 cm di bawah permukaan tanah, lahan sawah kembali diairi sampai ketinggian sekitar 5 cm. Pada waktu tanaman padi berbunga, tinggi genangan air dipertahankan 5 cm untuk menghindari stress air yang berpotensi menurunkan hasil. Batas kedalaman air 15 cm ini dikenal dengan PBK aman (safe AWD) yang bermakna bahwa kedalaman air sampai batas tersebut tidak akan menyebabkan penurunan hasil yang signifikan karena akar tanaman padi masih mampu menyerap air dari zona perakaran. Setelah itu, pada fase pengisian dan pemasakan, PBK dapat dilakukan kembali. Apabila terdapat banyak gulma pada saat awal pertumbuhan, PBK dapat ditunda 2 sampai 3 minggu sampai gulma dapat ditekan.

Referensi :

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.2015. Teknologi Hemat Air dalam Budidaya Padi Sawah.http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/info-teknologi/content/147-teknologi-hemat-air-dalam-budidaya-padi-sawah, (Online) diakses tanggal 11 Desember 2016


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS


FLAKES JEWAWUT


Dalam era yang semakin modern ini, kemudahan dan kepraktisan sangat dicari. Seperti halnya, disaat akan beraktivitas di pagi hari, kurangnya waktu untuk mempersiapkan makanan menjadi kendala untuk bersarapan. Padahal, sarapan merupakan rutinitas yang sangat penting dilakukan pada pagi hari sebelum beraktivitas. Salah satu kendala untuk sarapan yaitu tidak ada waktu untuk memasak nasi,karena membutuhkan waktu yang cukup lama.
Kini semakin marak produk cepat saji yang bergizi untuk sarapan seperti oat, sereal,dan flakes. Biasanya produk cepat saji tersebut terbuat dari gandum, dan jagung. Tidak ada salahnya untuk menginovasikan sumber daya alam yang ada di sekitar kita yang tentu bergizi tinggi.
Millet atau biasa disebut jewawut di Indonesia dapat menjadi solusi diversifikasi pangan non-beras di Indonesia.  Biji millet memiliki kandungan nutrisi lebih baik daripada padi (beras) dan jagung baik dari kandungan protein dan kalsiumnya.(Widyaningsih dan Mutholib, 1999). Jewawut memiliki kandungan karbohidrat sebesar 79% dan kandungan lainnya dalam jewawut yaitu mengandung protein sebesar 11% yang lebih tinggi dari pada beras yang hanya 7%. Jewawut juga memiliki zat antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas, untuk mencegah pembentukan sel kanker. Tumbuhan jewawut biasa tumbuh di sekitar areal persawahan dari biji jewawut sebelumnya. Jewawut mudah untuk ditanam,karena hanya dengan menebar biji jewawut ke tanah di sekitar areal persawahan, maka jewawut akan tumbuh. Biasanya para petani memanfaatkan biji jewawut yang sudah tua untuk dikeringkan dan dijadikan pakan burung. Bahkan ada yang mencabutnya, karena disangka tanaman liar dan menggangu pertumbuhan padi di sawah.
Kini telah ditemukan cara membuat flakes dari jewawut berdasarkan metode kajian pustaka dari beberapa referensi. Flakes, mungkin sudah familiar dengan makanan satu ini, flakes merupakanproduk makanan siap saji yang berbentuk lembaran tipis,berwarna kuning kecoklatan serta biasanya dikonsumsi dengan penambahan susu sebagai menu sarapan. Produk ini dapat diolah dengan teknologi sederhana, waktu yang singkat dan cepat dalam penyajian. 

Proses pembuatan flakes dari biji jewawut yaitu pertama, 200 gram biji jewawut yang sudah tua dicuci sampai bersih pada air yang mengalir, lalu biji jewawut direndam selama 60 menit.


Setelah itu, biji jewawut ditumbuk hingga halus, kulit dari biji jewawut juga ikut ditumbuk agar kandungan seratnya tinggi. Setelah itu, biji jewawut yang sudah ditumbuk dikukus selama kurang lebih 60 menit.

Tahap berikutnya,pembuatan adonan, biji jewawut yang sudah dikukus ditambahkan gula,garam,dan vanili sesuai selera.
Adonan dipipihkan menjadi berbentuk lembaran tipis menggunakan roller
Lalu dipanggang di oven dengan suhu 140o C selama 25 menit 


Setelah 25 menit inilah hasilnya
Refleksi
Tidak ada salahnya untuk berinovasi dari sumber daya yang tersedia di alam, semoga produk pangan baru ini dapat dijadikan alternatif makanan di pagi hari.

Referensi Gambar :
Dokumentasi di lampiran Hildayanti

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS